Meski tanpa suara, yakinlah ia sedang berbicara
Meski tanpa senyuman, yakinlah ia sedang tersenyum
Meski tanpa canda tawa, yakinlah ia sedang tertawa bersama
Meski tanpa tangis, yakinlah ia sedang bersedih bersama
Meski tanpa melihat, yakinlah ia sedang memperhatikan
Meski tanpa berhadapan, yakinlah ia sedang mendengarkan
Yakinlah..
yakin bahwa diam ini bukan bisu
Diam ini punya banyak makna, mewakili beribu-ribu bahasa
Karena tak selamanya kata-kata mengungkapkan rasa
Cukup pejamkan mata, lalu hayati indahnya
dan aku menyebutnya sebagai, masa inkubasi..
di mana tak ada rasa senang dan benci
terkurung dalam sarang kepompong suci
yang menjaganya dari lelaki ajnabi
hingga saatnya nanti
ia akan menjadi kupu-kupu yang menari-nari
261111 . 23:10
Just a Conversation: It’s Called ‘Credential’
It’s really hurts you, ndit?
Tidak terlalu, sepertinya sudah semakin terbiasa dengan keadaan. Semoga. Semoga akar pohon yang sudah tertanam kuat ini tak kembali dicabut. Hei, tapi apa aku kembali menanamnya?
It’s all depend on you, dear..
Ya, aku tahu. Tapi sadarkah? Ini seperti de javu untuk yang kesekian kalinya. Entah di alam mana aku berada, jarak tatapan mata itu selalu sama. Hei, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau ini seperti reinkarnasi?
I think so, they met each other before ‘the real you’ meet them..
Semoga.. semoga.. aku ingin bertemu kembali dengan mereka yang di sana. Tapi bukankah lelah rasanya, tiba-tiba terbangun dari tidur panjang yang telah membawaku ke alam itu?
Everythings is gonna be okay, honey..
But, I’m soooo weary! Ya, mungkin mereka memang membiarkan aku untuk tetap dalam tidur panjangku, sampai mereka membelai lembut wajahku, dan membangunkanku untuk menghadapi dunia baru. Bagaimana ini? Apa mereka tahu? Bagaimana jika mereka tahu? Bagaimana aku menjalani hidupku yang baru? Semoga semuanya tak terlalu menyakitkan. Seperti dulu. Dan seperti sebelum dulu, sebelum dunia ini kembali dibangkitkan. Aku lelah, biarkan aku tertidur untuk tiga menit, ya?
I’ll stay beside you, ndit..
