mY storY, MuhasabahDecember 23, 2011 4:41 am
Bismillah…
Beberapa minggu lalu, ada suatu hal yang menyita perhatianku. Sehari sebelum mulai UAS, ada masalah yang bikin aku uring-uringan. Tapi kupikir bukan masalah itu yang membuatku jadi gak karuan saat itu. Ada hal lain.. tapi apa?
Setelah dipikir-pikir, direnungi, dan dihayati perasaan ini, ternyata ada satu hal yang terlintas: Tong sampah.
 
Heeehh, kenapa tong sampah ndit?
 
Hihi, ga tau juga. itu yang tiba-tiba terlintas dipikiran. Ternyata keabsenan sang tong sampah ini yang bikin aku jadi uring-uringan gitu.
 
Sampai pada akhirnya aku bertemu seseorang untuk berdiskusi tentang ‘masalah tong sampah’ku ini. Baru saja kami berdua duduk bersama, beliau langsung nembak aku dengan sebuah pertanyaan. Daaaannnn, jleebbb! Tepat sasaran banget!
 
Sempat kaget–plus pengen ketawa, mungkin niatku udah ketahuan banget dari ekspresiku kali ya :D –selama sepersekian detik, karena aku langsung meng-calm down-kan diri dengan senyum biar ga terlalu keliatan gugup. Hhaaahhh..
 
Setelah banyak berdiskusi dengan beliau, aku terinsight sesuatu tentang tong sampah ini..
 
Ketika tak ada orang yang ingin mendengarkanmu
Ketika semua orang tak peduli dengan keadaanmu
Ketika tak ada tempat untuk berkeluh kesah
Ketika dunia terasa sempit dengan masalah yang tak kunjung usai
Ketika kau merasa si sekitarmu ramai tetapi kau merasa sendiri
 
aina Allah, ukhti?
aina Allah, ukhti?
di mana Allah??
 
Kau tak merasakannya sedang Dia ada bersamamu?
Kau merasa tak diperhatikan sedang Dia Maha Melihat yang selalu melihat keadaanmu?
Kau merasa sendiri sedang Dia Maha Mendengar yang selalu mendengar keluh kesahmu?
 
Ternyata, Allah ingin aku berlari menuju-Nya. Ternyata Allah sayang padaku, tak ingin membiarkan aku sendiri menghadapi ujian-harapan yang terus silih berganti.
 
*sekarang, ujian-harapan ini sedang memasuki fase ke-6. Entah, apakah ada fase-fase selanjutnya atau… Semua terserah padaMu ya Rabb…*
 
 
Tiada henti ucap syukurku,
Alhamdulillah Ya Kariim..
Puisi Ku, mY storY, CintaNovember 26, 2011 4:13 pm

Meski tanpa suara, yakinlah ia sedang berbicara

Meski tanpa senyuman, yakinlah ia sedang tersenyum

Meski tanpa canda tawa, yakinlah ia sedang tertawa bersama

Meski tanpa tangis, yakinlah ia sedang bersedih bersama

Meski tanpa melihat, yakinlah ia sedang memperhatikan

Meski tanpa berhadapan, yakinlah ia sedang mendengarkan

 

Yakinlah.. 

yakin bahwa diam ini bukan bisu

Diam ini punya banyak makna, mewakili beribu-ribu bahasa

Karena tak selamanya kata-kata mengungkapkan rasa

Cukup pejamkan mata, lalu hayati indahnya

 

dan aku menyebutnya sebagai, masa inkubasi..

di mana tak ada rasa senang dan benci

terkurung dalam sarang kepompong suci

yang menjaganya dari lelaki ajnabi

hingga saatnya nanti

ia akan menjadi kupu-kupu yang menari-nari

 

 261111 . 23:10

mY storYNovember 10, 2011 10:31 am
Agak menyesakkan ya, ndit? ^_^
 
Ya, perdana. Untuk pertama kalinya dalam ‘periode’ ini. Agak aneh memang, dua kondisi yang sama, tetapi membawa pengaruh yang berbeda. Pasti ada ’sesuatu’ yang berbeda di antara keduanya.
 
Ah, inilah.. aku lebih suka mendengar, mengamati pembicaraan orang-orang tanpa aku ikut terlibat di dalamnya. Bukannya aku tak peduli, tapi aku hanya berpikir, ‘ah, ternyata begitu yang dia pikirkan’. Bukannya aku apatis, namun aku hanya merasa tak berkepentingan untuk ikut andil dalam pembicaraan itu. Hei, memang siapa aku? Anak kecil yang belum tau apa-apa? Junior yang masih belum mengerti apa-apa? Whatever..
 
Ada yang lucu di sini. Salah satu di antara mereka ada yang begitu ‘optimis’ dengan prasangkanya. Dengan wajah yang ceria, ia menyampaikan hal itu. Aku pun ikut tersenyum mendengar celotehnya. Meski tersenyum, ternyata tak terasa ada yang menyesakkan hati. Dia tak tahu yang sebenarnya, dia tak tahu yang sesungguhnya terjadi. Di sini, aku meragukan keoptimisannya.
 
Apa berarti aku tahu yang sebenarnya?
 
Tak sepenuhnya, tapi setidaknya aku sedikit tahu sesuatu tentang itu. Sesuatu yang bertentangan dengan pandangan mereka.
 
Dan aku tak menyampaikannya pada mereka?
 
Bukan tak ingin menyampaikan, tapi kurasa itu bukan solusi yang baik, justru nantinya malah akan membuka tabir keburukan. Hhah, pantas saja terasa begitu menyesakkan.
 
Setelah mendengar percakapan mereka, lantas aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Bagaimana jika harapan mereka terjawab? Lalu bagaimana jika nantinya kenyataan tak sesuai dengan harapan mereka? Senang? Haru? Shock? Kecewa?
 
Dan bagaimana denganku yang secara tak langsung terlibat dalam hal ini? Haha, sepertinya kecemasan itu kembali lagi muncul dihadapanku. Let it flow, let it go. Aku pikir ini bentuk kekhawatiran yang tak beralasan. Menjadi ’sedikit’ egois juga perlu, bukan?
 
Izinkan aku, untuk sementara, menutup telinga dari prasangka-prasangka itu.
Izinkan aku, untuk sementara, tak peduli dengan harapan-harapan itu.
 
Kumohon, izinkan aku..
mY storYOctober 26, 2011 4:15 pm
There’s something new today, ndit?
 
Ya, si dia datang. Aku berkenalan dengannya, dan dia berkata dengan senyuman, "Halo, ndit! Semoga saya bisa akur denganmu." Entah senyuman yang tulus atau bukan. Awalnya aku jengah memandangnya, errgh tampilan luarnya sangat tak menarik. Mengapa harus aku yang bertemu dengannya dan bukan orang lain saja?
 
Because he/she is special just for you, dear..
 
Hanya untukku? Mengapa aku? Aku tak pernah kenal dia sebelumnya. Dia akan menyita waktuku, menyita hari-hariku. Dia juga akan memenuhi pikiran-pikiranku. Bagaimana aku akan mendapat manfaat darinya?
 
He/she is never come to you, if you are not ready yet..
 
Okey. Artinya sekarang aku sudah siap, ya? Semoga. Semoga aku menjadi insan pilihanNya. Kau tahu? Ternyata dia tak begitu menyebalkan. Dia memang banyak memberikan beban di pundakku selama perjalanan ini, selama aku bersamanya. Tapi ia berjanji padaku, bahwa ia akan memberikan sesuatu yang manis di akhir pertemuan kami. Haruskah aku percaya dengan janjinya?
 
It’s depend on your effort to believe it, ndit..
 
Huh, aku ingin percaya padanya, agar perjalanan kami terasa menyenangkan. Karena Tuhanku telah mempercayakanku untuk bertemu dengannya, maka aku akan berjuang bersamanya selama meniti perjalanan ini. Karena Tuhanku telah menghadirkan dia dalam hidupku, maka aku harus percaya bahwa aku adalah orang yang terpilih. Karena Tuhanku yang telah mempertemukan kami, maka kami harus saling percaya untuk saling bekerja sama. Ya, semua karena Tuhanku..
 
If he/she disappoint you?
 
Berarti ada yang salah dengan diriku. Aku harus kembali mengupgrade niat, langkah, dan tujuanku. "Semua karena Tuhanku" harus kembali digaungkan. Jika sudah begitu, mau siapapun dia, dari manapun asalnya, dan kapanpun ia datang, tak menjadi masalah bagiku untuk berdamai dengannya. Ketika aku tak lagi bersamanya, aku pasti akan merindukan dirinya. Kekecewaan pasti ada, hanya bagaimana si hati melihat kebenaran nurani. Got the idea? :)
 
Yeah, you’re really trust him/her, right?
Hey, what’s his/her name?
 
Orang-orang di sekitarku sering memanggilnya dengan sebutan "AMANAH".
mY storYOctober 24, 2011 10:39 pm

It’s really hurts you, ndit?

Tidak terlalu, sepertinya sudah semakin terbiasa dengan keadaan. Semoga. Semoga akar pohon yang sudah tertanam kuat ini tak kembali dicabut. Hei, tapi apa aku kembali menanamnya?

It’s all depend on you, dear..

Ya, aku tahu. Tapi sadarkah? Ini seperti de javu untuk yang kesekian kalinya. Entah di alam mana aku berada, jarak tatapan mata itu selalu sama. Hei, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau ini seperti reinkarnasi?

I think so, they met each other before ‘the real you’ meet them..

Semoga.. semoga.. aku ingin bertemu kembali dengan mereka yang di sana. Tapi bukankah lelah rasanya, tiba-tiba terbangun dari tidur panjang yang telah membawaku ke alam itu?

Everythings is gonna be okay, honey..

But, I’m soooo weary! Ya, mungkin mereka memang membiarkan aku untuk tetap dalam tidur panjangku, sampai mereka membelai lembut wajahku, dan membangunkanku untuk menghadapi dunia baru. Bagaimana ini? Apa mereka tahu? Bagaimana jika mereka tahu? Bagaimana aku menjalani hidupku yang baru? Semoga semuanya tak terlalu menyakitkan. Seperti dulu. Dan seperti sebelum dulu, sebelum dunia ini kembali dibangkitkan. Aku lelah, biarkan aku tertidur untuk tiga menit, ya?

I’ll stay beside you, ndit..

Puisi Ku, mY storYSeptember 17, 2011 2:21 am
Aku (A): Boleh bertanya sesuatu?
 
Pelangi (P): Tentu boleh. Apa yang hendak kau tanyakan?
 
A: Hmm.. Apa warna warni pelangimu selalu kau bagi ke setiap insan yang memandangmu?
 
P: Warna warni apa yang kau maksud?
 
A: Ya warna warnimu.. Aku hanya khawatir banyak insan yang salah memaknai setiap warna yang kau beri.
 
P: Bukankah indah warna pelangi? Apa yang sebenarnya kau khawatirkan? (more…)